Postingan Populer

Recent Posts

International Conference on Biodiversity For Life : Sustainable Development of Indonesia Biodiversity

Konferensi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam merayakan Dies Natalis ke-70 Tahun Universitas Nasional dan juga Fakultas Biologi-UNAS, dengan mengusung tema "Sustainable Development of Indonesia Biodiversity"

Perjalanan pertama bareng BBC “Ardea” di Pulau Rambut

Kegiatan tahunan yang diadakan untuk mencari calon-calon birdwatcher yang mengudara dalam dunia perburungan. kegiatan ini dilakukan di Pulau Rambut selama 2 hari 1 malam.

Bubo, Rajanya Burung Hantu

Burung Bubo juga mempunyai mitos yang kental dikalangan masyarakat, terutama masyarakat pulau Sumatera. Bubo dianggap sebagai burung yang dapat membawa keberuntungan bagi sang pemiliknya..

Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris)

Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) adalah spesies burung anggota marga Halcyon dari suku Halcyonidae (kerabat raja-udang). Cekakak jawa menyebar terbatas (endemik) di Jawa dan Bali.

Our New Collection Merchandise !

Biological Bird Club "Ardea" kembali mengeluarkan Merchandise kami lho ! Pre-order sudah bisa dilakukan sekarang. Jangan terlewatkan !! Silahkan Cek di Halaman "Ardea Shop" Yaaa....... !!!

Rabu, 10 Februari 2021

Melihat Bukti Nyata Ancaman Sampah Terhadap Burung

 Melihat Bukti Nyata Ancaman Sampah Terhadap Burung

Oleh Muhamad Azriel dan Aditya Nurrahma Badri
10 Februari 2021




        Kita sering mendengar bahwa polusi sampah merupakan salah satu ancaman yang harus dihadapi oleh burung karena manusia yang tidak bertanggung jawab yang semakin merusak bumi ini serta penghuni didalamnya. Memang benar bahwa sampah yang dibuang ke laut memiliki dampak negatif terhadap burung-burung yang memanggil hamparan air asin ini rumahnya. Laporan dari UN (United Nations) pada tahun 2016 menyebutkan bahwa sekitar 800 jenis hewan laut, termasuk berbagai jenis burung air terancam teracuni oleh sampah mikroplastik yang ditelan atau tercekik dan tersangkut oleh jaring atau karung plastik. Banyak juga foto-foto yang tersebar di internet menampilkan burung seperti camar yang sudah mati dengan perutnya yang berisi banyak sampah. Secara pribadi, penulis sering membaca artikel atau melihat foto-foto seperti itu, namun tidak ada yang lebih meresahkan daripada melihat hal tersebut secara langsung pada pertama kalinya. 

           Sebagai bagian dari kegiatan BBC “Ardea” untuk mengamati burung migrasi, penulis dan beberapa anggota BBC “Ardea” lainnya mendatangi Pantai Marunda untuk melakukan pengamatan dan mengambil data dari banyaknya burung yang mendatangi atau melewati Indonesia setiap tahunnya dalam perjalanan migrasi mereka. Ketika sampai disana, kami melihat beberapa jenis burung yang biasa terlihat di kawasan tersebut seperti Dara-laut tiram (Gelochelidon nilotica) dan Dara-laut kumis (Chlidonias hybrid). Namun ditengah berjalan sambil meneropong menggunakan binocular atau mencatat data di tabulasi, kami melihat hal yang janggal. Seekor kuntul kecil (Egretta garzetta) yang diam di dekat seorang nelayan yang sedang menguraikan jaring pancingnya yang kusut. Sangat jarang kami melihat burung yang betah di dekat seorang manusia, sehingga awalnya kami berpikir bahwa kuntul tersebut sedang mencari makanan dari sisa hasil tangkapan si nelayan, namun semua pertanyaan terjawab ketika melihat salah satu kaki kuntul tersebut yang tersangkut kumpulan tali dan sampah plastik. Tentunya perhatian kami berpaling dari burung-burung yang terbang bebas ke burung malang ini.

        Tidak hanya kami yang perhatiannya terpaku pada burung ini, seorang bapak dan keluarganya juga menonton burung yang berwarna putih ini. Sejujurnya, sampai saat ini kami pun tidak tahu apakah kuntul ini benar-benar tersangkut sampah atau sengaja diikat oleh nelayan tersebut. Kami mencoba bertanya kepada nelayan tersebut namun dia menghiraukan kami. Apapun alasannya, kami harus membebaskan burung ini. Jika tidak, ada kemungkinan burung ini bisa mati kelaparan atau dimangsa oleh kucing-kucing yang terlihat mengintai sekitar pantai. Salah satu dari kami dengan sigap langsung mendekati kuntul dan melihat lebih dekat sampah yang tersangkut di pergelangan kaki dari burung air tersebut. Pada awalnya kami bingung untuk mencari cara untuk membebaskan kuntul ini, namun kemudian kami bisa membebaskan kuntul dengan cara memotong tali yang melingkari pergelangan kaki kuntul. Akhirnya kuntul tersebut bebas dari perangkapnya dan mengambil beberapa langkah sebelum menatapi kami selama beberapa saat. Penulis menganggap ini sebagai cara kuntul itu berterima kasih kepada kami karena telah memberikannya kesempatan untuk terbang bebas lagi. Kemudian kami melanjutkan pengamatan dengan rasa senang karena bisa membantu seekor burung yang terperangkap. 



Burung Kuntul Kecil setelah dibebaskan dari jebakan sampahnya 


        Cerita ini kami harap dapat menunjukkan betapa pentingnya kita dalam mengurangi produksi sampah sehari-hari, tidak membuang sampah sembarangan dan mendukung kebijakan pemerintah ataupun perusahaan yang bisa mengarah terhadap pengelolaan sampah yang lebih baik. Kuntul kecil tersebut merupakan satu dari ribuan burung yang tersangkut sampah, sayangnya tidak semua cerita dari burung-burung tersebut berakhir dengan bahagia. Kebanyakan burung tersebut akan mati tercekik dan keracunan ketika menelan sampah atau mati kelaparan karena sampah yang tersangkut di paruhnya atau kakinya mengakibatkan mereka tidak bisa mencari makanan. Sehingga untuk membantu burung-burung ini, tidak harus melakukan apa yang kami lakukan, tidak setiap hari kalian akan bertemu oleh burung yang tersangkut sampah, namun kalian bisa berpartisipasi dalam kegiatan membersihkan sampah di kawasan pantai atau mangrove sehingga mengurangi kemungkinan burung terbelit dan terjera oleh sampah kita.




Referensi :



Senin, 08 Februari 2021

Buletin BBC "Ardea" 9


Tautan link buletin dapat dilihat di bawah ini:
Download Buletin BBC Ardea 9

Jumat, 05 Februari 2021

Melihat Keberadaan Burung di 5 RTH Jakarta

 Melihat Keberadaan Burung di 5 RTH Jakarta

Oleh Ahmad Habib Nur Fikri
6 Februari 2021



        Pada Februari tahun 2020 yang lalu, pandemi datang ke Indonesia yang mengakibatkan seluruh kegiatan masyarakat dihentikan begitu pun dengan kegiatan BBC "Ardea". Pada 6 bulan kemudian di bulan Agustus, masyarakat diperbolehkan beraktivitas kembali dengan syarat adanya pembatasan jumlah orang dan physical distancing. Dengan adanya kondisi tersebut tidak menyulutkan semangat pengurus BBC "Ardea" dalam melakukan pengamatan burung urban, namun tetap mematuhi protokol yang ada dengan menerapkan pembatasan jumlah anggota yang hadir dan melakukan physical distancinganggota pengurus dalam mengamati dan mengidentifikasi burung di lapangan. Burung urban merupakan burung yang habitat atau tempat tinggalnya berada di perkotaan. beberapa contoh burung urban yaitu burung gereja dan burung tekukur.

        Kegiatan ini merupakan program kerja Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) yang bertujuan untuk menginventarisasi jenis burung urban yang berada pada 5 RTH Jakarta serta mengasah kemampuan para anggota pengurus dalam mengamati dan mengidentifikasi burung di lapangan. Lokasi pengamatan burung urban ini diantaranya, Taman Margasatwa Ragunan, Waduk Sunter, Taman Lapangan Banteng, Bumi Perkemahan Cibubur dan Jalur Hijau Kosambi. Lokasi tersebut dipilih untuk mewakili setiap wilayah di ibu kota DKI Jakarta.

        Taman Margasatwa Ragunan terletak di kota administrasi Jakarta Selatan. Pada Taman Margasatwa Ragunan terdapat 25 jenis burung yang teramati, diantaranya Walet linci (Collocalia linchi), Tekukur biasa (Streptopelia chinensis), Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), Burung gereja (Passer montanus), Betet biasa (Psittacula alexandri), Kerak kerbau (Acridotheres javanicus), Takur ungkut-ungkut (Psipologon haemacephalus), Burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis), Burung-madu kelapa (Anthreptes malacensis), Gelatik jawa (Padda oryzivora), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Cabai jawa (Dicaeum trochileum), Punai gading (Trenon vernans), Caladi tilik (Dendrocopos moluccensis), Sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus), Kipasan belang (Rhipidura javanica),  Blekok sawah (Ardeola speciosa), Raja udang meninting (Alcedo meninting), Kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea), Kareo padi (Amaurornis phoenicurus), Bentet kelabu (Lanius schach), Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius), Bondol peking (Lonchura punctulata), Punai pengantin (Treron griseicauda) dan Kepudang kuduk-hitam (Oriolus chinensis).

        Waduk Sunter terletak di kota administrasi Jakarta Utara. Pada Waduk Sunter terdapat 17 jenis burung yang teramati, diantaranya Pecuk-ular asia (Anhinga melanogaster), Walet linci (Collocalia linchi), Burung gereja eurasia (Passer montanus), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Remetuk laut (Gerygone sulphurea), Blekok sawah (Ardeola speciosa), Layang-layang batu (Hirundo tahitica), Tekukur biasa (Streptopelia chinensis), Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), Bondol peking (Lonchura punctulata), Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), Perkutut jawa (Geopelia striata), Dara-laut kumis (Chlidonias hybrida), Burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis), Dara-laut tiram (Gelochelidon nilotica), Kekep babi (Artamus leucorynchus) dan Cabai jawa (Dicaeum trochileum).

        Taman Lapangan Banteng terletak di kota administrasi Jakarta Pusat. Pada Taman Lapangan Banteng terdapat 12 jenis burung yang teramati, diantaranya Takur Ungkut-Ungkut (Psipologon haemacephalus), Tekukur Biasa (Streptopelia chinensis), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Punai Gading (Treron vernans), Burung Gereja (Passer montanus)Walet Linci (Collocalia linchi), Kekep Babi (Artamus leucorhynchus), Remetuk Laut (Gerygone sulphurea), Burung Madu-Sriganti (Nectarinia jugularis), Cabai Jawa (Dicaeum trochileum), Merpati Batu  (Columba livia) dan Betet Biasa (Psittacula alexandri).

        Bumi Perkemahan Cibubur terletak di kota administrasi Jakarta Timur. Pada Bumi Perkemahan Cibubur terdapat 20 jenis burung yang teramati, diantaranya Cabai Jawa (Dicaeum trochileum), Burung-Madu Kelapa (Anthreptes malacensis), Walet Linci (Collocalia linchi), Burung Gereja (Passer montanus), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Layang-layang Batu (Hirundo tahitica), Tekukur Biasa (Streptophelia chinensis), Wiwik Uncuing (Cacomantis sepulcralis), Merbah Cerukcuk (Pycnonotus goiavier), Raja Udang Meninting (Alcedo meninting), Cinenen Pisang (Orthotomus sutorius), Remetuk laut (Gerygone sulpuhera), Perkutut Jawa (Geopelia striata), Sepah Kecil (Pericrocrotus cinnamomeus), Cekakak Sungai (Todirhamphus chloris), Cinenen Jawa (Orthotomus sepium), Cinenen Kelabu (Orthomus ruficeps), Kerak Kerbau (Acridotheres javanicus), Wiwik Kelabu (Cacomantis merulinus) dan Caladi Ulam (Dendrocopos macei).

         Jalur Hijau Kosambi terletak di kota administrasi Jakarta Barat. Pada Jalur Hijau Kosambi terdapat 5 jenis burung yang teramati, diantaranya Walet Linci (Collocalia linchi), Burung Gereja (Passer montanus)Bondol peking (Lonchura punctulata), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan Cabai Jawa (Dicaeum trochileum).


Kamis, 04 Februari 2021

Perlindungan Perdagangan Burung

 Perlindungan Perdagangan Burung

Oleh Ainaya Nurfadila
5 Februari 2021


©Merdeka.com

        Indonesia memiliki berbagai jenis satwa, satwa-satwa tersebut tersebar diseluruh pulau-pulau yang ada di Indonesia. Kekayaan alam tersebut adalah aset negara yang tak ternilai harganya, maka dari itu perlu adanya pengaturan dan perlindungan terhadap berbagai jenis satwa dan tumbuh-tumbuhan agar tidak hilang dari alam. Pada tahun 1978, Indonesia sebagai negara megabiodiversity meratifikasi convention on international trade of endangered species wild fauna and flora (CITES) melalui keputusan presiden (kepres) No.43 tahun 1978 tentang pengesahan convention on international trade of endangered species wild fauna and flora (CITES). Pengaturan dan perlindungan tersebut diwujudkan oleh Negara Indonesia melalui pembentukan undang-undang tentang sumber daya alam hayati dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (yang selanjutnya akan disebut dengan UU KSDA). Peraturan perundang-undangan yang ada diharapkan mampu untuk melindungi ekosistem dan sumber daya alam hayati yang ada di Indonesia. Peraturan pelaksana atas UU KSDA, antara lain :

  1. Peraturan Pemerintah nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa.

  2. Peraturan Pemerintah nomor 8 Tahun 1999 Tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

  3. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar

  4. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.52/Menhut-II/2006 tentang Peragaan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi

  5. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.53/Menhut-II/2006 tentang Lembaga Konservasi

  6. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.35/Menhut-II/2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu

  7. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.31/Menhut-II/2009 tentang Akta Buru dan Tata Cara Permohonan Akta Buru
  8. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.18/Menhut-II/2010 tentang Surat Izin Berburu dan Tata Cara Permohonan Izin Berburu

        Dalam peraturan CITES terdapat tiga lampiran / Appendix yang berisi daftar aneka jenis tumbuhan dan satwa liar, termasuk burung yang sudah diatur tatacara perdagangannya. Ketiga Appendix tersebut adalah:

  • Appendix I: memuat daftar dan melindungi seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang terancam dari segala bentuk perdagangan. Itu berarti semua burung yang termasuk dalam Appendix I tidak boleh diperdagangkan, kecuali untuk konservasi.
  • Appendix II: memuat daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi memungkinkan menjadi terancam punah akibat perdagangan yang terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Jenis burung yang terlampir dalam Appendix II bisa diperdagangkan melalui tata cara dan peraturan yang berlaku.
  • Appendix III: memuat daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di suatu negara tertentu, dan berada dalam kawasan habitatnya. Appendix III memberi pilihan bagi negara-negara anggotanya untuk status perdagangannya, apakah masuk Appendix I atau Appendix II.
        Ketiga Appendix itulah yang dibutuhkan setiap negara dalam melakukan perdagangan tumbuhan dan satwa liar, khususnya berbagai jenis burung kicauan dilindungi maupun tidak dilindungi. Perjanjian itu sendiri sudah menjadi komitmen dari 145 negara yang menjadi anggotanya. Hal itu pun sudah menjadi bentuk proses kerja sama antar negara anggotanya yang menjamin bahwa perdagangan tumbuhan dan satwa liar bisa terlaksana sesuai dengan konvensi CITES.

      Seiring dengan maraknya hobi memelihara burung di kota-kota, telah berkembang pula kebiasaan kontes-kontes burung kicau di berbagai wilayah di Indonesia, karena itu, kegiatan hobi memelihara burung, kontes burung, dan bisnis perdagangan burung telah menyebabkan suatu dilema. Pada satu pihak, kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif. Misalnya, dapat berkembangnya kegiatan bisnis burung dan penangkaran burung oleh masyarakat yang dapat menguntungkan secara ekonomi. Namun, di pihak lain, kegiatan tersebut sangat mengkhawatirkan terjadinya penurunan populasi burung secara drastis di alam, bahkan dapat menimbulkan kepunahan jenis burung. Hal tersebut terutama apabila kegiatan seperti kontes burung dan bisnis perdagangan burung tersebut tidak dikelola dengan seksama tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasinya.

         Beberapa alasan orang yang hobi memelihara burung yakni sebagai sarana hiburan karena burung memiliki bulu indah, suara merdu, tingkah laku lucu menari, menguntungkan untuk dijual lagi dan menghilangkan stress dan rasa penat. Jenis-jenis burung yang biasa disertakan pada kontes burung kicau tingkat lokal dan sekitarnya cukup beraneka ragam. Utamanya ada dua jenis burung lokal yang biasa dijadikan unggulan kontes, yaitu murai batu (Kucica Hutan/Copsychus malabaricus) dan anis merah (Zoothera citrina). 

        Segala bentuk upaya perlindungan terhadap satwa harus dilaksanakan, karena tanpa disadari bahwa satwa yang ada didunia khususnya di Indonesia semakin hari semakin berkurang. Bahkan ada dari beberapa spesies yang saat ini sudah mengalami kepunahan. Kepunahan dari beberapa jenis satwa yang dilindungi ini merupakan ketidaksadaran dari dalam diri manusia betapa pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Tanpa disadari bahwa spesies-spesies yang telah punah ataupun hampir punah tersebut memiliki peranan yang sangat penting bagi suatu keseimbangan ekosistem, sehingga dengan punahnya spesies tersebut telah membunuh tumbuh dan perkembangan suatu ekositem dan pada akhirnya membawa dampak buruk yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk yang ada di bumi.


Referensi :

  1. Johan Iskandar. Dilema Antara Hobi Dan Bisnis Perdagangan Burung Serta Konservasi Burung. Departemen Biologi Fmipa UNPAD. Diakses 17 September 2020.
  2. Diningrat RI. 2011. Penegakan hukum terhadap tindak pidana perdagangan satwa liar yang dilindungi menurut undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (studi kasus terhadap perdagangan burung Paruh Enggang di Provinsi. PT Sinar Grafika. Jakarta.
  3. https://www.burung.org/tag/perdagangan-burung/
  4. https://omkicau.com/2017/10/22/mengenal-status-perdagangan-burung-berdasarkan-cites/





Antara Burung Dengan Kehidupan

 Antara Burung dengan Kehidupan

oleh Muhammad Rifky Alfeni
4 Februari 2021


    Burung merupakan satwa yang terkenal karena memiliki sayap yang tidak dimiliki oleh satwa lainnya. Keberadaan burung selalu kita temukan disetiap aktifitas kita. Keberadaan burung dapat berupa suara atau wujud. Rumah makan cepat saji sangat merasakan pentingnya keberadaan burung, burung-burung seperti ayam, bebek dan kalkun. Indonesia termasuk negara dengan tingkat konsumsi daging ayam yang tinggi, dibuktikan dengan data dari Badan Pusat Statistik perihal produksi daging ayam di tahun 2019 yang hampir mencapai 3,5 juta ton. Peranan burung bukan sebatas hanya sebagai bahan konsumsi, burung dapat memberi manfaat diri aspek psikologis sampai ekosistem. Berikut adalah peranan burung bagi manusia dan alam.


Hubungan Burung dengan Manusia

            Manusia dan burung telah memiliki hubungan dari zaman dahulu hingga saat ini. Burung hadir dalam beberapa aspek dalam kehidupan kita, contoh hubungan burung dengan manusia diantaranya :

1. Burung memiliki hubungan erat dengan kebudayaan, agama dan cerita rakyat yang dibuktikan dengan adanya relief-relief burung yang terdapat pada situs-situs kuno atau tempat-tempat peribadatan. Selain itu, burung juga dijadikan gambaran tokoh pada cerita-cerita seperti Garuda, Kinnara dan Jatayu. Burung juga dijadikan lambang negara seperti Indonesia (Garuda/Elang Jawa, Nisaetus bartelsi), Amerika Serikta (Elang Botak, Haliaeetus leucocephalus), Papua Nugini (Cendrawasih, Paradisaeidae), dan Australia (Emu, Dromaius novaehollandiae).

2. Kotoran burung dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dibidang pertanian. Manusia dapat mengumpulkan kotoran burung yang kaya akan unsur-unsur hara seperti fosfat, kalium dan nitrogen yang penting bagi pertumbuhan tanaman.

3. Beberapa jenis burung dapat menimbulkan penyakit kepada manusia dengan infeksi virus seperti West Nile atau virus flu burung (H5N1).

Relief Burung


Hubungan Burung dengan Alam

        Burung merupakan bagian rantai makanan pada habitatnya. Setiap jenis burung memiliki makanan dan habitatnya masing-masing, hal itu yang menyebabkan burung sebagai sumber keseimbangan alam. Hubungan burung dengan alam diantaranya :

1. Burung memiliki peran sebagai pemakan hama pada perkebunan, ladang dan lainnya. Khususnya burung-burung pemakan serangga dapat menekan persebaran hama yang mengganggu.

2. Burung madu memiliki peranan dalam proses penyerbukan. Burung madu tanpa sadar mengambil nektar dari bunga ke bunga lainnya membawa serbuk sari di paruhnya yang berakhir pada proses penyerbukan. 

3. Burung penyebar biji sebagai penyebar benih, burung pemakan biji dapat menyebarkan benih dari tempat lain ke tempat yang lebih luas. 

4. Feses ataupun guano dari burung dapat berperan sebagai pengkayaan nutrisi tanah dan air, fases atau guano burung mengandung unsur hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman.

Burung Madu Sriganti (Cinnyris jugularis). ©Kutilang.or.id

        Setelah kita mengetahui betapa eratnya hubungan burung baik dengan manusia maupun alam, maka akan bijak jika kita memperlakukan burung dengan baik, seperti dengan menjaga eksistensinya di alam dengan tidak melakukan perburuan liar dan menjaga kelestarian habitatnya.



Referensi

1. https://burungnews.com/peranan-burung-bagi-manusia-dan-ekosistem-berita-318/

2. https://www.tagar.id/ini-negara-yang-menggunakan-burung-sebagai-lambang-negara

3. https://www.sridianti.com/peranan-burung-bagi-manusia-dan-ekosistem.html


Rabu, 03 Februari 2021

Kemampuan Unik Burung Cikalang

 Kemampuan Unik Burung Cikalang, Fregata anderwsi

Oleh Ahmad Habib Nur Fikri
3 Februari 2021

©bocah_wallacea

        Burung Cikalang adalah salah satu jenis burung laut yang pada umumnya dapat dijumpai di sepanjang wilayah samudera tropis maupun subtropis. Perilaku burung Cikalang ini memang diketahui sangat unik dan tidak dimiliki oleh jenis burung lain, yaitu :

Terbang Dengan Waktu Yang Lama

       Burung Cikalang merupakan salah satu hewan atau burung terkuat. Hali ini karena burung Cikalang dapat terbang berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan tanpa mendarat untuk mencari ikan. Burung Cikalang dapat terbang lama dengan memanfaatkan angin yang berhembus kencang di atas lautan untuk menghemat energi.

        Adaptasi terbang ini menirukan cara terbang pesawat glider. Mereka mengambil keuntungan dari udara yang bergerak naik ke atas di bawah awan cumulus tropis agar tetap berada di atas ketinggian dalam waktu sangat lama.

Tidur Ketika Terbang

         Ketika terbang berhari-hari bahkan berbulan-bulan dan saat malam tiba, agar tetap bisa terbang, burung Cikalang menidurkan setengah bagian otak dan satu matanya. Jadi, otak dan mata yang ada di sisi lain tetap bangun. Hal ini dibuktikan oleh penelitian dengan melepaskan burung tersebut dan merekam data selama 10 hari. Sementara burung Cikalang terbang tanpa henti lebih dari 3.000 km.

©David Boyle

           Hasilnya, ketika matahari terbenam, Cikalang tertidur, namun setengah otak burung tersebut beralih ke alam tidur gelombang lambat. Di saat bersamaan, sayap mereka tetap membentang sehingga tetap dapat terbang. Uniknya lagi, salah satu matanya terbuka. Penelitian tersebut berkesimpulan bahwa burung Cikalang memanfaatkan arus udara agar tetap bisa terbang. Sedangkan satu mata yang terbuka dilakukan agar tak bertabrakan dengan burung lain selama mereka tertidur.




Referensi:
1. https://www.jalaksuren.net/mengetahui-perilaku-burung-cikalang-dengan-gaya-terbang-unik/
2. https://juaranews.com/berita/19054/07/10/2016/saat-terbang-burung-laut-cikalang-bisa-tidur


Kamis, 27 Februari 2020

Ardea VII (Artikel Dari Perjalanan)












Kamis, 13 Februari 2020

Keunikan Burung Sikatan Emas


Keunikan Sikatan Emas

By Seno Wicaksono

11 Februari 2020



      Sikatan emas merupakan burung kicau yang mempunyai suara yang khas. Sikatan emas merupakan burung kerabat dari sikatan belang. Sikatan Emas memiliki karakteristik tubuh sekitar 13 cm dan memiliki tiga warna yang berbeda terdapat warna hitam, putih dan kuning. Bagian atas tubuh dari kepala, punggung hingga bagian ekor memiliki warna hitam pekat. Terdapat warna putih menyelimuti tubuh pada bagian perut dekat tunggir, sisi pangkal sayap, ujung sayap, alis dekat mata dan ujung ekornya. Terlihat di bagian punggung dada dan juga perut terdapat warna kuning keemasan yang menjadi ciri khas sikatan emas. 



 Figure 1


Sikatan emas biasanya hidupdi daerah yang memiliki dataran tinggi dengan rentang sekitar 900 mdpl. Sikatan emas biasanya terdapat di hutan yang memiliki banyak pepohonan.

Sikatan emas merupakan pemakan buah-buahan atau biji-biji kecil. Keunikan dari burung ini adalah memiliki kebiasaan berpindah tempat atau bermigrasi pada saat musim dingin. Oleh karena itu banyak masyarakat Indonesia yang jarang menemukan burung ini. Beberapa daerah di Indonesia yang memiliki hutan dengan keanekaragaman pohon yang berlimpah akan menjadi tempat tujuan sementara untuk tinggal oleh sikatan emas ini. Selain ke Indonesia terdapat juga negera lainnya yang dituju burung Sikatan Emas seperti negara-negara di Asia Tenggara dan selatan Tiongkok. Sedangkan negara yang menjadi tempatnya berkembangbiak tersebar di negara Tsanbaikalia, Mongolia, Rusia, Tiongkok, Korea, dan Jepang.



Bagaimana cara membedakan Jantan dan Betina ? 



Figure 2 Jantan

Sikatan emas Jantan

-         Memiki warna hitam lebih pekat dari kepala, sayap, punggung dan ekor
-         Terdapat warna putih seperti garis terang pada bagian alis dan sayap
-         Memiliki mata berwarna hitam dan paruh hitam
-         Mamiliki warna kuning keemasan pada bagian dada, perut hingga tunggir.
-         Kaki berwarna hitam 



Figure 3 Betina

Sikatan emas Betina

-         Tubuh lebih coklat kusam
-         Tubuh bagian dada dada, perut hingga ekor memiliki warna abu-abu        kusam.
-         Memiliki tunggir kuning pucat
-         Paruh agak tebal dan kaki hitam serta ramping
-         Memiliki mata berwarna hitam.


Begitulah sedikit cerita tentang keunikan si Sikatan emas yang memiliki warna yang cantik dan suara kicauan merdu ini.marilah mencari pengetahuan seluas-luasnya demi masa depan yang cerah. salam konservasi !!!






Referensi Tulisan:
1. http://www.kutilang.or.id/2013/03/16/sikatan-emas/
2. https://www.hbw.com/species/yellow-rumped-flycatcher-ficedula-zanthopygia
3. http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_sikatan_emas.htm

4. Wikipedia.com